PENINGGALAN BUDAYA ISLAM DI INDONESIA (IPS)
1) Masjid




•Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak termasuk ke dalam jajaran masjid tertua di Indonesia. Masjid ini dibangun pada abad ke-15 Masehi oleh Raden Patah dari Kerajaan Demak dan dibantu wali songo. Masjid ini terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Di dalam lokasi kompleks masjid ini, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak termasuk di antaranya adalah Raden Patah yang merupakan raja pertama Kesultanan Demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat museum–Museum Masjid Agung Demak–yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya masjid ini.
•Masjid Indrapuri
Luas area mesjid Indrapuri sekitar 33 meter kubik tersebut, berada dekat dengan jalan raya lintas Banda Aceh-Medan. Jadi sangat mudah bagi yang ingin berwisata religi ke Indrapuri, selain mudah dijangkau, juga bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi. Dari pusat kota Banda Aceh ke Indrapuri berjarak sekitar 24 km ke arah utara.
Ada satu sejarah penting lagi dari mesjid Indrapuri ini diakhir tahun 1874 M, saat penobatan Tuanku Muhammad Daud Syah menjadi Sultan Kerajaan Aceh Darussalam, mesjid tua Indrapuri juga menjadi Saksi bisu.
Sampai saat ini, peninggalan sejarah dari mesjid Indrapuri telah mendapat perhatian dari pemda setempat. Disisi depan kompleks terlihat jelas papan peringatan untuk masyarakat, yang berbunyi “Dilarang merusak mengambil atau memindahkan. Dilarang mengubah bentuk dan memisahkan keadaan atau kesatuan benda cagar budaya yang berada di dalam situs dan lingkungannya,” semoga dengan berbagai bukti sejarah ini bisa kembali mengingatkan kita akan khasanah budaya Aceh yang begitu besar dulu sampai sekarang untuk anak cucu kita nanti.
•Masjid Baiturrahman Aceh
Awalnya masjid yang asli dibangun pada tahun 1612 di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Ada juga yang mengatakan, bahwa masjid yang asli dibangun lebih awal pada tahun 1292 oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah. Pada saat itu status masjid ini sebagai masjid kerajaan yang menampilkan atap jerami berlapis-lapis yang merupakan fitur khas arsitektur Aceh.[2]
Kemudian ketika Kolonial Hindia Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada tanggal 10 April 1873, masyarakat Aceh menggunakan bangunan masjid yang asli sebagai benteng pertempuran, dan menyerang pasukan Kerajaan Belanda dari dalam masjid. Pasukan Kerajaan Belanda pun membalas dengan menembakkan suar ke atap jerami masjid, yang menyebabkan masjid terbakar. Ibadah salat dan lainnya saat itu direlokasi ke Masjid Baiturrahim Ulee Lheue. Jenderal Van Swieten pun menjanjikan pemimpin lokal bahwa dia akan membangun kembali masjid dan menciptakan tempat yang hangat untuk permintaan maaf.
Lalu pada tanggal 9 Oktober 1879,[3] Kerajaan Belanda membangun kembali masjid ini sebagai pemberian dan untuk mengurangi kemarahan rakyat Aceh. Konstruksi dimulai pada tahun 1879, ketika peletakan batu pertama diletakkan oleh Tengku Qadhi Malikul Adil, yang kemudian menjadi Imam pertama masjid, dan diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1881 ketika masa pemerintahan Sultan terakhir Aceh, Muhammad Daud Syah. Banyak orang Aceh yang awalnya menolak untuk beribadah di Masjid Baiturrahman yang baru ini karena dibangun oleh orang Belanda, yang awalnya merupakan musuh mereka. Namun sekarang masjid ini telah menjadi kebanggaan masyarakat Banda Aceh.
•Masjid agung Banten
Masjid Agung Banten menampilkan desain eklektik, bukti pengaruh internasional di Banten pada saat pembangunannya pada tahun 1552. Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur Jawa pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf–Sultan ketiga Kesultanan Banten–pada tahun 1556.[1]:164
Sebuah pawestren (aula samping masjid yang digunakan untuk musala perempuan) bergaya Jawa ditambahkan pada masa pemerintahan Maulana Muhammad (1580-1586). Serambi sebelah selatan masjid diubah menjadi makam berisi sekitar 15 kuburan.[5]
Pada tahun 1632, minaret setinggi 24 meter ditambahkan ke kompleks masjid.[1]:164 Minaret ini dirancang oleh seorang Tionghoa bernama Cek-ban-cut.[6] Sekitar periode yang sama tiyamah[7] dua lantai bergaya Belanda ditambahkan ke masjid mengikuti desain Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang warga Belanda yang masuk Islam.
2) makam
•Makam Sultan Malik Al-Saleh
Salah satu jejak kerajaan Islam pertama di Nusantara serta peninggalannya dapat ditemukan di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.
Makam Sultan Malik Al-Saleh merupakan peninggalan Kerajaan Samudera Pasai, yang diakui secara umum sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.
Makam peninggalan sejarah Islam ini milik Sultan Malik Al-Saleh atau Meurah Silu, pendiri sekaligus sultan pertama Kerajaan Samudera Pasai yang berkuasa antara 1267-1297.
•Makam Sultan Iskandar Muda, Persemayaman Abadi Sang Penakluk
Adalah Pocut Meurah, istri dari Sultan Mahmud Syah yang membantu menguak misteri mengenai lokasi makam Sultan Iskandar Muda yang hilang.
Banyak situs bersejarah peninggalan Kesultanan Aceh hancur selama perang melawan Hindia Belanda. Beberapa diantaranya, makam dari Sultan Iskandar Muda dan anggota keluarganya, yaitu Putri Kamaliah dari Pahang (Putroe Phang), Sultanah Safiatuddin Tajul Alam dan Puteri Sendi Ratna Indera.
Makam-makam tersebut hilang tanpa jejak dan untuk memutus keterikatan masyarakat Aceh dengan sejarah puncak kejayaan mereka di masa Iskandar Muda. Setelah hilang selama ratusan tahun, Makam Sultan Iskandar Muda yang telah berusia tiga abad akhirnya berhasil ditemukan dan kemudian dipugar kembali.
•Makam Sunan Muria
Berziarah masuk ke dalam cungkup makam Sunan Muria hanya pada hari: Kamis Wage dan Kamis Legi buka pada jam 06.00 pagi sampai dengan pukul 24.00 malam. Jumat Kliwon dan Jumat Pahing buka jam 06.00 sampai jam 04.00 sore.
Masjid Sunan Muria diperkirakan dibangun pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Lokasi masjid ini berada di puncak Gunung Muria yang memiliki ketinggian 1.600 mdpl.
Pada zaman dulu, Sunan Muria berdakwah menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Muria. Di kemudian hari, dia mendirikan pesantren dan sebuah masjid di puncak gunung itu.
Dikutip dari Islamic.center.or.id, nama “Muria” sendiri berasal dari nama sebuah bukit yang berada di dekat Yerusallem. Nama bukit itu “Moriah”. Konon, Nabi Daud bersama putranya, Nabi Sulaiman, membangun sebuah rumah ibadah di puncak Bukit Moriah.